konsumen hijau (batam pos, 20 April 2013 – 22:49 WIB ) akses: http://batampos.co.id/2013/04/20/konsumen-hijau/

Konsumen Hijau!
20 April 2013 – 22:49 WIB
0

PERMASALAHAN lingkungan menjadi ancaman bagi negara Indonesia. Kementerian RI mencatat penduduk Indonesia rata-rata menghasilkan sekitar 2,5 liter sampah per hari atau 625 juta liter dari jumlah total penduduk. Menurut Universitas Adelaide, Indonesia termasuk empat negara yang paling banyak berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan. Hal ini dapat kita lihat dari, kerusakan lingkungan di Indonesia pada setiap tahunnya meningkat, hingga mencapai 40-50 persen dari luas wilayah Indonesia atau sekitar 190 juta hektare.

Kerusakan tersebut, meliputi : ekosistem hutan, sawah, serta terumbu karang (Kambuaya,2010). Pada tahun 2008, Indonesia dianugerahi Certificate Guinnes World Records sebagai Perusak Hutan Tercepat di Dunia. Produksi elektronik di Indonesia tidak kalah mencengangkan. Indonesia mampu memproduksi televisi sebanyak 12.500.000 kg per tahun dengan jumlah impor 6.687.082 kg per tahun (BPS,2012). Penyumbang terbanyak krisis lingkungan di Indonesia diakibatkan konsumsi sumber daya yang berlebihan. Berkembangnya konsep konsumen hijau menjadi salah satu pertimbangan dalam penyelesaian krisis lingkungan di Indonesia. Lalu, apa itu konsumen hijau dan mengapa harus menjadi konsumen hijau?

Konsep

Konsumen merupakan pengguna terakhir dari barang dan jasa. Perilaku konsumen sebagai tindakan langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi, dan menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan mengikuti tindakan ini (Engel, Blackwell, dan Miniard, 1993). Dr. Abraham Maslow memperkenalkan teori kebutuhan berjenjang yang dikenal sebagai Teori Maslow atau Hirarki Kebutuhan Manusia (Maslow’s Hierarchy of Needs). Menurut teori Maslow, manusia berusaha memenuhi kebutuhan tingkat rendahnya terlebih dahulu sebelum memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi. Model hirarki kebutuhan Maslow.
Pertama, kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan dasar manusia, untuk mempertahankan hidup meliputi makanan, air, udara, rumah, pakaian, dan seks.
Kedua, kebutuhan rasa aman merupakan perlindungan fisik manusia dari gangguan kriminalitas, sehingga ia bisa hidup dengan rasa aman baik di rumah maupun sewaktu berpergian.

Ketiga, kebutuhan sosial merupakan rasa cinta dan kasih sayang, rasa memiliki dan dimiliki, serta diterima oleh orang-orang di sekelilingnya.
Keempat, kebutuhan ego atau esteem untuk berprestasi sehingga mencapai derajat yang lebih tinggi. Kelima, kebutuhan aktualisasi diri untuk menjadikan individu sebagai orang terbaik dengan potensi dan kemampuan yang dimilikinya.

Dari teori Maslow, sebagian besar individu mempunyai keinginan dan harapan yang harus dicapai. Pada negara maju, kebanyakan individu sudah melewati kebutuhan dasar, bahkan masuk pada tahap pemenuhan kebutuhan aktualisasi diri, sehingga lebih konsen terhadap pelestarian lingkungan. Pada negara sedang berkembang, sebagian besar individu masih dalam tahapan pemenuhan kebutuhan dasar sehingga kebutuhan akan aktualisasi diri kurang. Apalagi kebutuhan akan pelestarian lingkungan. Tantangan yang dihadapi sekarang, apakah negara berkembang bisa berkontribusi dalam pelestarian lingkungan? langkah-langkah apa saja yang perlu diperhatikan? Bagaimana prospek ke depannya?

Penerapan dan Prospek

Dari kenyataan tersebut, muncullah konsep konsumen hijau. Konsumen hijau merupakan implementasi kepedulian masyarakat terhadap lingkungan, dengan membeli produk ramah lingkungan atau eco-friendly. Konsep konsumen hijau telah berkembang pesat di Eropa, AS, Kanada, Jepang, Australia, dan Selandia Baru. Salah satu contohnya, konsumen di barat menolak tissue merek tertentu yang pabriknya dibangun di Papua Indonesia karena bahan baku yang digunakan merusak hutan di Papua.

Dengan adanya konsep konsumen hijau ini diharapkan individu dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya tanpa meninggalkan kewajibannya menjaga dan melestarikan lingkungan sekitar. Kelima kebutuhan dasar tersebut tidak harus terpenuhi terlebih dahulu. Walaupun seorang individu masih dalam tahap pemenuhan kebutuhan dasar, ia harus tetap berperan untuk menjaga dan melestarikan lingkungan. Maka dari itu, jadikan konsep konsumen hijau ini sebagai kebutuhan dasar untuk membentuk individu yang peduli dengan alam disekitarnya. Beberapa langkah yang perlu dilakukan menjadi konsumen hijau berbasis kesadaran lingkungan.

Pertama, aktif dalam mencari informasi produk maupun jasa mengenai mutu, penampilan, harga, garansi, serta layanan purnajual yang akan dibeli serta aman bisa dilihat dari klaim produk, seperti: Biodegradable, Bebas Fosfat, CFC Free, Non Polluting, Green Product, Environmentally Friendly, serta Recycleable.
Kedua, pasca pemakaian, diharapkan konsumen hijau dapat mendaur ulang sampah-sampah plastik atau menghancurkan kemasan sebelum dibuang. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi pemanfaatan sampah secara sembarangan.

Ketiga, Gunakan sumber daya secara tepat, efektif, dan efisien serta punya benteng diri kuat agar konsumen tidak mudah tertipu.
Keempat, konsumen hijau turut aktif dalam menjaga dan melestarikan lingkungan serta menyuarakan hak-hak dan kewajiban konsumen sesuai dengan Undang-Undang Perlindungan Konsumen No.8 Tahun 1999.

Konsep konsumen hijau ini pada dasarnya tidak sulit untuk diterapkan di negara manapun termasuk Indonesia. Faktor pendorong yang mempengaruhi masyarakat Indonesia, ketika mereka mau atau tidak untuk mendengar, belajar, berbagi, serta mengaplikasikan konsep konsumen hijau. Keberagaman masyarakat di Indonesia tidak akan menjadi halangan apabila setiap orang mempunyai kesadaran diri akan pentingnya menjadi konsumen hijau. Apabila masyarakat Indonesia menerapkan langkah-langkah konsumen hijau maka tidak menutup kemungkinan presentase kerusakan lingkungan serta kesehatan masyarakat akan meningkat ke arah yang lebih baik. Dengan konsep konsumen hijau yang diterapkan di Indonesia diharapkan negara Indonesia mampu mencapai target Millennium Development Goals (MDGs)/Tujuan Pembangunan Millenium pada tahun 2015. ***

Pendidikan Karakter (Terbit: batam pos, 7 Mei 2013 – 09:21 WIB) akses: http://batampos.co.id/2013/05/07/pendidikan-karakter/

Pendidikan Karakter
Oleh: Riska Anggraeni Prastya
Peradaban sebuah bangsa ditentukan sumber daya manusia. Indeks pembangunan manusia di Indonesia tahun 2012, menduduki peringkat 121 di dunia dengan total 0,629 persen (UNDP, 2013). Kualitas guru di Indonesia hanya 22,15 persen dari total seluruh guru SD berpendidikan S1 atau lebih (BPS, 2009). Sejumlah 7.732.280 anak usia 7-18 tahun tidak atau belum bersekolah (Diknas, 2008). Tingkat perkelahian pelajar juga semakin meningkat. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan jumlah korban tawuran yang meningkat dari tahun sebelumnya, yakni sedikitnya sudah 17 pelajar meninggal dunia akibat tawuran di wilayah Jabodetabek sejak 1 Januari 2012 hingga 26 September 2012.
Sementara data dari Komnas Anak, menyebutkan bahwa jumlah tawuran pelajar mengalami kenaikan pada enam bulan pertama tahun 2012. Hingga bulan Juni, terjadi 139 kasus tawuran di wilayah Jakarta. Sebanyak 12 kasus menyebabkan kematian. Sementara pada 2011, ada 339 kasus tawuran menyebabkan 82 anak meninggal dunia. Dengan semakin menurunnya kualitas pendidikan di Indonesia dan moral generasi muda membuat fondasi bangsa goyah. Perlunya pendidikan karakter dalam kurikulum pendidikan sebagai salah satu alternatif penyelesaian krisis pendidikan di Indonesia. Lalu, apa itu pendidikan karakter dan bagaimana penerapannya di Indonesia?
Konsep dan Terapan
Pendidikan karakter merupakan sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi positif kepada lingkungannya (Megawangi, 2003). Berbicara mengenai pembangunan karakter, maka tidak lepas dari bagaimana membentuk kepribadian individu-individu sejak dini dari dalam keluarga dan sekolah. Peran keluarga yang sangat besar dalam pendidikan, sosialisasi, dan penanaman nilai kepada anak menjadi kekuatan penting dalam pembentukan karakter anak.
Schikendaz (1995), mengatakan bahwa segala perilku orang tua dan pola asuh yang diterapkan di dalam keluarga berpengaruh pada pembentukan kepribadian dan karakter seorang anak. Kedua orang tua harus terlibat, keterlibatan ayah dalam pengasuhan di masa kecil sampai usia remaja juga menentukan karakter anak.
Studi yang dilakukan oleh Fagan (1995), menunjukan bahwa ada keterkaitan antara faktor keluarga dan tingkat kenakalan keluarga, dimana keluarga yang broken home, kurangnya kebersamaan, interaksi antar anggota keluarga, orang tua yang otoriter, serta adanya konflik keluarga cenderung menghasilkan remaja yang bermasalah.
Fagan (1995), juga mengatakan faktor sosial ekonomi ikut berperan, di mana kemiskinan juga berhubungan erat dengan tingkat stress yang tinggi dalam keluarga, perilaku kekerasan, dan akhirnya berpengaruh terhadap kualitas karakter anak. Maka dari itu, dibutuhkan keluarga yang harmonis di mana ayah dan ibu saling berinteraksi dengan kasih sayang dan selalu ada kebersamaan keluarga, akan memberikan suatu lingkungan yang kondusif bagi pembentukan karakter anak. Apakah ke depannya Indonesia mampu membentuk generasi muda yang berkarakter?
Prospek
Kepercayaan pada adanya nilai-nilai universal (golden rules), dapat memberikan jalan kepada diberlakukannya metode pendidikan karakter yang bertujuan untuk membentuk manusia yang dapat berperilaku sesuai dengan nilai-nilai universal tersebut. Melihat begitu kompleksnya proses pembangunan karakter individu, maka sudah saatnya pendekatan pendidikan budi pekerti (termasuk pendidikan agama) untuk ditinjau kembali, sehingga dapat melibatkan seluruh aspek “knowing the good, loving and desiring the good, and acting the good” (Mengetahui, Mencintai, Menginginkan, dan Mengerjakan) secara simultan dan berkesinambungan.
Sebetulnya setiap manusia dianugerahkan instink (kecenderungan alami) untuk belajar. Sehingga apabila orang tua salah dalam memotivasi anak dan sistem pembelajaran di sekolah yang tradisional telah mematikan instink ini. Perlu adanya perubahan dari sistem pengajaran yang satu arah, dimana anak hanya diberikan instruksi tanpa melibatkan anak sehingga membuat anak pasif. Apabila Indonesia menerapkan sistem pembelajaran yang melibatkan partisipasi lebih dari anak-anak, mendapat pengalaman yang konkrit, daya serap yang semakin tinggi, sehingga memungkinkan anak akan haus untuk terus mempelajarinya. Salah satu contohnya, yakni TK dan SD Karakter yang didirikan oleh Indonesia Heritage Foundation (Yayasan Warisan Nilai Luhur Indonesia) ini menerapkan model pendidikan holistik berbasis karakter (PHBK). Pendidikan karakter masuk dalam daftar pelajaran mereka. TK dan SD karakter ini berlokasi di di Jalan Raya Jakarta-Bogor KM 31 Nomor 46 Cimanggis, Depok.
Indonesia mempunyai peluang besar dalam membentuk karakter untuk masyarakatnya. Hal ini harus didukung penuh dengan adanya pendidikan karakter yang efektif. Dengan mengikutsertakan materi kurikulum yang berarti bagi kehidupan generasi muda atau berbasis kompetensi (life skill) sehingga anak merasa mampu menghadapi dan memecahkan masalah kehidupan. Diharapkan dengan adanya pendidikan karakter dapat membentuk sebuah pola baru. Mencirikan bangsa Indonesia yang berbeda wajahnya dari sekarang, yaitu sebuah masyarakat madani yang menjadi idaman seluruh bangsa di dunia.
Riska Anggraeni Prastya
Mahasiswa Jurusan Ilmu Keluarga dan Konsumen,
Fakultas Ekologi Manusia, IPB

Kesenjangan Gender Indonesia

Keragaman: Kesenjangan Gender Indonesia
Oleh Riska Anggraeni Prastya

Kesenjangan sosial antara perempuan dan laki-laki relatif tinggi di Indonesia. Indek Pembangunan Gender Indonesia sebesar 72,77 persen pada tahun 2011 (BPS, 2012). Partisipasi perempuan di anggota legislatif DPR-RI tahun 2009-2014 sebesar 18,04 persen (CETRO, 2009). Presentasi perempuan yang menduduki anggota legislatif pemilu 2009, menunjukkan hanya ada 18 persen perempuan yang duduk menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Sedangkan di Dewan Perwakilan Daerah, jumlah perempuan hanya 60 anggota dari 246 anggota DPD, atau sekitar 22,7 persen. Jumlah penduduk usia 15 tahun ke atas hanya 6,62 persen perempuan yang melanjutkan ke pendidikan tinggi dan laki-laki 7,12 persen (BPS,2011). Lalu, bagaimana kesenjangan gender muncul dan solusi penanganannya?
Konsep
Gender diartikan sebagai perbedaan peran, fungsi, status, dan tanggung jawab pada laki-laki dan perempuan sebagai bentukan (konstruksi) sosial budaya dan sebagai atribut ekonomi, sosial, politik dan budaya yang dikaitan dengan laki-laki dan perempuan yang beragam menurut pergantian zaman. Standpoint theory (Harding 1986, Word 2007), menyatakan laki-laki dan perempuan memiliki perspektif yang terpisah dan perbedaan hierarki sosial yang mempengaruhi apa yang dilihat dan dikomunikasikan karena perempuan dan minoritas lainnya mempersepsikan dunia perempuan memposisikan pada hierarki lebih rendah dari laki-laki.
Akar Permasalahan
Indonesia masih mengalami kesenjangan gender yang relatif besar. Adanya sistem patriarki membagi peran gender dengan pembagian yang cukup jelas (meskipun dengan derajat fleksibilitas yang bervariasi) antara laki-laki dan perempuan dengan menempatkan laki-laki pada fungsi di sektor publik dan perempuan di sektor domestik. Dalam sistem patriarki tersebut perempuan tidak mempunyai akses penuh dalam pengambilan keputusan di dalam keluarga maupun masyarakat. Masih rendahnya peran dan partisipasi perempuan di bidang politik, jabatan-jabatan publik, dan bidang ekonomi, yang ditunjukkan dengan rendahnya nilai Indeks Pemberdayaan Gender (GEM). Kesenjangan gender dari segi upah menunjukkan bahwa rasio upah yang diterima perempuan yang bekerja di sektor pertanian adalah 50 persen dari upah yang diterima laki-laki dan 70 persen untuk pekerjaan di sektor non-pertanian (BPS, Sakernas). Dari permasalahan gender di atas, bagaimana solusi yang tepat untuk mengurangi kesenjangan gender di Indonesia?

Solusi
Dibentuknya kebijakan pembangunan pemberdayaan perempuan melalui peningkatan kualitas hidup dan peran perempuan dalam berbagai bidang pembangunan, meningkatnya pemenuhan hak-hak perempuan atas perlindungan dari tindak kekerasan, dan meningkatkan kapasitas kelembagaan dan jejaring serta peran masyarakat dalam mendukung pencapaian kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan (KPP-PA 2010). Konsep gender sebaiknya dipahami dengan acuan pada peran-peran sosial, tanggung jawab, perilaku yang diyakini sebagai ciri lelaki dan perempuan yang terjadi bukan karena perbedaan jenis kelamin melainkan disebabkan oleh hasil pembelajaran sosial. Oleh karena itu, sebaiknya peran gender dapat diperbaharui dan diubah untuk mencapai relasi gender yang berkeadilan dan setara. Adanya pangarusutamaan gender melalui Kepmendagri No.32 Tahun 2003, yang kemudian direvisi dengan PermenDDN No.15 Tahun 2008, sebagai bentuk pengarusutamaan gender ke dalam semua aspek pembangunan daerah, termasuk alokasi anggaran responsif gender. Hal ini akan semakin penting di tengah persaingan antar bangsa. Bangsa Indonesia akan mampu bersaing manakala didukung oleh penduduk yang berkualitas.

SOUND CARD

images 2

penkom tugas 2

Nama: Riska Anggraeni Prastya
Nim: I24110014

KEYBOARD
Berfungsi untuk mengkonfigurasi sumber daya yang ada pada keyboard

MOUSE
Berfungsi untuk mengkonfigurasi sumber daya mouse pada komputer dan sebagai pengatur tampilan kinerja serta ke sensitifan pada mouse.

VIDEO GRAPHIC ADAPTER (VGA)
VGA card atau kartu grafis berfungsi sebagai penghubung yang memungkinkan pengiriman data-data grafis antara PC dan perangkat display seperti monitor yang dipasang pada slot motherboard. Namun ada juga komputer yang mempunyai VGA terintegrasi pada motherboard atau CPU-nya.

KLIK

PRINTER
Ketika mengakses Devices dan Printers akan melihat semua perangkat dan printer yang terpasang pada sistem Windows 7. Jika ingin secara manual menambahkan perangkat, klik Tambah Device dan akan melihat sebuah wizard yang akan memandu melalui langkah-langkah untuk menambahkan perangkat ke Windows 7. Jika ingin secara manual menambahkan printer, klik Add Printer dan akan melihat sebuah wizard yang akan memandu melalui langkah-langkah untuk menambahkan baik lokal atau sebuah printer jaringan ke Windows 7.
Kembali ke Hardware and Sound Devices dan jendela di bawah Printer anda dapat mengakses kotak dialog Mouse Properties, seperti yang anda lihat tampak dan bekerja sama seperti dalam versi Windows sebelumnya. Juga pada Hardware and Sound Devices dan jendela di bawah Printers anda dapat mengakses Device Manager, yang juga terlihat dan berfungsi sama seperti dalam versi sebelumnya dari Windows.

SOUND CARD
Bagian selanjutnya dalam jendela Hardware dan Sound adalah Sound, yang menyediakan akses ke kotak dialog Sound. Seperti anda dapat melihat tiga tab berisi item konfigurasi sementara tab Komunikasi baru dan memungkinkan anda untuk mengkonfigurasi bagaimana Windows mengatur volume perangkat bila anda menggunakan sistem anda untuk panggilan telepon.

Display
Bagian selanjutnya dalam jendela Hardware dan Suara adalah Display dan pada jendela awal memungkinkan untuk mengubah ukuran teks dan item lainnya pada layar anda untuk membuat mereka lebih mudah untuk dibaca. Dari jendela tampilan dalam, anda dapat mengatur Resolusi dan Perubahan Display mengakses jendela Settings Screen Resolution dengan kontrol yang dapat gunakan untuk mengubah tampilan layar.
Dalam Menggunakan perangkat Manajemen Warna , dapat menyesuaikan pengaturan untuk memastikan bahwa konten yang diterjemahkan warna sejelas mungkin pada semua perangkat tampilan seperti monitor dan printer. Di samping menggunakan Manajemen Warna perangkat ini, dapat memilih kalibrasi warna dari jendela Display dan meluncurkan Kalibrasi Warna Tampilan wizard, yang akan memungkinkan anda untuk menyesuaikan warna pada monitor dan untuk memastikan bahwa mereka diwakili seakurat mungkin.
Dari dalam jendela Display, dapat mengakses Teks ClearType Tuner, yang merupakan wizard yang menuntun melalui teks ClearType menyesuaikan pengaturan untuk meningkatkan keterbacaan teks pada monitor LCD. Juga pada jendela Display, anda dapat mengakses dan menggunakan pengaturan pada Custom DPI kotak dialog Pengaturan untuk benjolan hingga ukuran teks dan elemen grafis lainnya, seperti ikon, sehingga mereka lebih sesuai DPI asli pada monitor LCD.

Motherboard (papan utama)
Motherboard mainboard adalah komponen utama yang membangun sebuah komputer. Berbentuk papan persegi dengan slot-slot untuk memasukkan komponen-komponen lain. Fungsinya untuk menghubungkan seluruh komponen komponen PC. Perangkat keras lain semuanya melekat langsung pada slot motherboard atau setidaknya terhubung menggunakan kabel.

Random Access memory (RAM)
RAM berfungsi sebagai tempat transit data sementara untuk operasi-operasi yang tengah dijalankan oleh CPU. RAM bersifat volatile, artinya perangkat ini tidak menyimpan data secara permanen, hanya untuk operasi yang dibutuhkan saja. Kapasitas RAM pada PC yang sering kita temukan cukup beragam, mulai dari 256 MB – 16 Gb.

Hard Disk Drive (HDD)
Hard disk drive berfungsi sebagai tempat penyimpanan data utama dalam sebuah sistem komputer, sistem operasi, aplikasi dan dokumen-dokumen di simpan pada hard-disk-drive. Pada PC baru ada juga perangkat keras yang bernama Solid State Drive (SSD). Fungsinya sama seperti hrd-disk,namun menawarkan kecepatan transfer data yang lebih cepat.

Printer and Faxes

passport-print2-2

Mother Board

images

Flash Drive

FLASH DRIVE 2s

Control Panel

1346734_orig

GAMBAR PENKOM